Melihat Karikatur, Membaca Sejarah

Suara Merdeka edisi 19 Februari 2017.
SEORANG kartunis yang mampu melihat persoalan sosial politik, akan bersuara mengenai perkembangan keadaan sekaligus mewakili kekecewaan publik. Kartun, begitu pula karikartur dan animasi, bukan sekadar karya seni.

Lebih dari itu, kartun adalah anak zaman yang merekam kenyataan. Sejarah mencatat, lewat cara itu pula pergerakan dan revolusi digerakkan sekaligus dikekalkan. Augustin Sibarani dalam Karikatur dan Politik (2001) menyebut, sebuah karikatur mesti mengandung dua ciri, yaitu satire dan distorsi.

Satire diartikan sebagai ironi, tragedi- komedi atau parodi. Karena itu, karikatur dapat mengandung sesuatu yang janggal, absurd, yang bisa menertawakan, tetapi bisa pula memprihatinkan atau menyedihkan. Dengan melihat ciri itu, Leonardo da Vinci dan Albrecht Durer telah memulai membuat karikatur sejak sekitar 1550.

Di Indonesia, Soekarno atau Bung Karno termasuk salah seorang karikaturis pada zaman kolonial Belanda. Dalam beberapa karikaturnya, Soekarno biasa mencantumkan nama samaran Soemini. Dia menyadari, media massa adalah salah satu alat perjuangan. Tak lama setelah keluar dari Penjara Sukamiskin, Mei 1932, dia menghidupkan kembali Majalah Soeloeh Indonesia Moeda. Tak lama kemudian, dia menerbitkan Majalah Fikiran Ra’jat. Di kedua majalah itulah, Bung Karno menjadi redaktur kepala.

Propaganda menuju Indonesia merdeka dia suarakan melalui berbagai artikel dan karikatur. Daras (2010) menyebut, pada setiap edisi paling sedikit Bung Karno menulis satu artikel. Bahkan di Fikiran Ra’jat, dia juga mendesain sampul dengan coretan “karikatur yang jelek” karena secara estetis, karikatur Bung Karno cenderung statis. Kejelekan karikatur Bung Karno juga terletak dalam penjabaran panjang-lebar di bawah gambar.

Untuk ukuran sekarang, itu tidak lazim. Sebab, lazimnya karikatur tak diberi keterangan panjang-lebar karena mudah dicerna. Dalam sebuah edisi termuat karikatur “Penyatuan Indonesia”. Terlukis Jenderal Van Heutsz menaburkan benih di ladang, lalu bersemi menjadi bendera-bendera kecil Merah- Putih. Di bawah gambar tertulis keterangan, “Ia menaburkan bibit penjatuan Hindia Belanda, lalu Persatuan Indonesia jang bersemi.” Namun karikatur yang “jelek” itu justru sangat pas pada zamannya.

Selain tingkat pendidikan masyarakat masih rendah, deretan kalimat panjang yang menjelaskan arti karikatur karya Soemini itu bisa menjadi bahan propaganda, bahan provokasi yang efektif. Lewat karikatur, semangat rakyat terbakar. Pemerintah kolonial Belanda pun kebakaran jenggot. Karikatur di majalah itu edisi nomor 6-7, 12 Agustus 1932, berisi penjabaran panjang dan kontekstual dengan kondisi politik masa itu.

Saat itu terjadi perpecahan di kalangan nasionalis yang memuncak pada dua kubu, PNI dan Partindo. Bung Karno dan Hatta gagal mengatasi konflik itu. Akhirnya Bung Karno memilih masuk Partindo. Namun Bung Karno tetap mengulurkan tangan pada PNI. Karikatur itu pun dia lengkapi teks, “Kasih tangan saudara! Bung Karno masuk P.I. tetapi terus berpolitik persatuan. Kaum Marhaen jang sengsara, Bersatulah.” Dan, dalam Fikiran Ra’jat itu juga dikeluarkan “Maklumat dari Bung Karno Kepada Kaum Marhaen Indonesia” yang merupakan ajakan Bung Karno agar kaum Marhaen tetap bersatu.

Tiga Macam Karikatur

Sibarani membagi karikatur menjadi tiga macam. Pertama, karikatur orang-pribadi. Kedua, karikatur sosial. Ketiga, karikatur politik. Karikatur orang-pribadi melukiskan seseorang, biasanya tokoh yang dikenal. Sang kartunis mengekspose wajah atau kebiasaan tokoh, tanpa objek lain atau situasi di sekelilingnya, secara karikatural.

Karikatur sosial tentu mengemukakan dan menggambarkan persoalan masyarakat yang menyinggung rasa keadilan sosial. Karikatur politik menggambarkan situasi politik sedemikian rupa agar penikmat melihat dari segi humor dengan menampilkan tokoh politik di panggung dan mementaskan secara lucu. Jagat karikatur memiliki kode etik yang tak banyak diketahui orang, termasuk para karikaturis.

Seorang karikaturis memiliki kebebasan mengemukakan tema dengan gaya satiris humor yang khas, selama karikaturnya itu tidak vulger, amoral, atau mengetengahkan cacat fisik manusia dan tidak jorok. Selain itu, karikatur lazimnya hemat kata, bahkan tanpa kata. Harmoko, menteri penerangan pada masa Presiden Soeharto, pernah menjadi karikaturis. Ketika terjadi konfrontasi dengan Malaysia pada 1963-1965, karikatur Harmoko banyak dimuat. Sayang, banyak karikaturnya menyalahi kode etik. Selain berkesan kotor, sadistis, dan hal-hal lain yang membuat mutunya rendah, banyak karikatur Harmoko boros kata dan tak logis.

Mengingat kekompleksan karikatur dan kartun, pegiat karikatur anggota Semarang Cartoon Club (Secac), Arif Srabilor, menilai kurang pas jenis seni itu sekadar dianggap konsumsi anak-anak. “Itu justru kekuatan. Kartun mengusung pesan yang relevan dengan kondisi masyarakat pada waktu tertentu. Kartun memberikan pandangan, karena ia juga opini, yang memengaruhi cara orang melihat persitiwa politik,” ujar Arif.

Jadi, ujar Arif, kartun adalah screenshot pandangan kartunis mengenai situasi kehidupan nyata. “Hanya dalam garis-garis itu sebenarnya kartunis meninggalkan jejak peristiwa penting dari sisi lain,” katanya.

Karikaturis dapat memengaruhi banyak orang lewat pesan dan kesan dalam karikaturnya. Karikatur itu memiliki “kekuatan”. David Low dari Inggris dikenal sebagai karikaturis yang pernah membuat Hitler tak bisa tidur akibat karikaturnya pada waktu Perang Dunia II. Thomas Nast, karikaturis dari Amerika Serikat, pernah menjatuhkan seorang calon kuat presiden yang memiliki amoralitas mencolok mata pada masa kampanye.

Kita tentu juga tak lupa kasus majalah satire asal Prancis, Charlie Hebdo. Karikatur di majalah itu menuai kontroversi dan berujung penyerangan ke kantor redaksi majalah itu, Januari 2015. (Dhoni Zustiyantoro-44)

Sumber: Suara Merdeka 19 Februari 2017

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Melihat Karikatur, Membaca Sejarah"

Post a Comment