Kartun akan Tetap Eksis

Suara Merdeka edisi 19 Februari 2017
HINGGA kini, kartunis asal Semarang masih terus berkarya. Ada pula yang berkarier di kancah nasional, antara lain Jitet Koestana. Kartunis kelahiran Semarang, 4 Januari 1967, itu telah melalui perjalanan panjang dalam berkarier. Dia mulai berkarier sebagai kartunis 1987 dan “meloncat-loncat” dari satu media ke media lain. Ya, dia pernah berkarier di Harian Kartika, Harian Jawa Pos, Tabloid Gaya, Tabliod Senior, Harian Kompas.

Pada 1987, kartun Jitet diterbitkan Suara Merdeka edisi Minggu. Jitet menjadi kartunis profesional mulai 1990 di Kartika Semarang. Tahun itu pula dia memperoleh grand prize dari Mingguan Bola pada acara Kontes Kartun Nasional. Peraih 3rd Prize International Turhan Selcuk Cartoon Competition Turkey 2015 itu kini kembali ke Semarang. Kini, dia menjadi kartunis lepas, sehingga leluasa mengikuti berbagai kompetisi kartun.

Dia juga sedang mempersiapkan kompetisi kartun tingkat dunia, Astra Motor International Cartoon Contest 2017. Acara itu dijadwalkan Mei 2017 di Pasaraya Sri Ratu Semarang. ”Penghargaan masyarakat terhadap kartun sangat baik. Namun, bagi kartunis, saat ini dunia media kertas menyempit. Artinya, kartun dalam perkembangan kehilangan media kertas yang kini menyurut. Itu tak lain lantaran perkembangan dunia digital,” kata Jitet. Namun para kartunis tak surut langkah. Dunia digital justru menjadi pelecut kretivitas bagi mereka. Persaingan ketat dan jaringan lebih luas menuntut kartunis terus meningkatkan kemampuan. “Jaringan dunia digital berskala internasional. Teknologi bukan hambatan. Justru membantu kami untuk bersaing,” tutur dia.

Dia mengemukakan kini kartunis memiliki pilihan selain menggunakan media kertas dalam berkarya. Mereka bisa memasarkan produk melalui media kaus, komik, cangkir, dan kompetisi. Soal kompetisi, Jitet punya pandangan tersendiri. “Saya kemarin membagikan informasi tentang lomba kartun melalui media sosial. Hanya sedikit yang menanggapi. Alasan mereka, lomba itu bersifat tahunan. Namun semestinya kartunis melihat ada jutaan kompetisi semacam itu,” katanya.

Dia memberi gambaran, dalam waktu setahun seorang kartunis membuat dua karya bagus yang disiapkan untuk mengikuti kompetisi. “Kita bisa memilih kompetisi. Tak perlu juara I. Juara II atau III pun cukup karena hadiahnya sangat cukup untuk membiayai hidup. Saya melakukan hal itu sampai sekarang,” ujar dia.

Dia memandang media massa menjadi lahan yang baik bagi kartunis. Media punya tanggung jawab menjamin kehidupan kartunis. Kartunis bisa belajar dari wartawan soal tulisan. “Namun kartunis yang bekerja di media massa sangat terbatas. Medianya juga terbatas. Di mana ratusan kartunis lain? Laman yang selalu memberi informasi soal kompetisi kartun adalah irancartoon.com.”

Tak Cuma Humor

Kartunis adalah Abdullah Ibnu Thalhah. Dialah direktur Rumah Kartun Indonesia. Thalhah belajar menjadi kartunis ketika kuliah di IAIN (kini UIN) Walisongo Semarang pada 1995-2002. Lulus perguruan tinggi, pria kelahiran Tegal, 25 Mei 1976, itu menjadi kartunis profesional di Suara Merdeka dan Tabloid Cempaka. Kini, Thalhah menjadi kartunis lepas. Dia mengerjakan ilustrasi sampul buku, cerita pendek, buku anak-anak, dan lain-lain.

Dia juga berbagi tentang pengalaman di dunia kartun dengan mengajar di almamaternya. Thalhah pernah meraih penghargaan komik terbaik I Bank Indonesia Jakarta 2009, the Best Illustration Prize Master Cup International Cartoon and Illustration Biennial Beijing China 2010, Comic Award: Most Conceptual Design Prize Asian Youth Animation & Comics Contest China 2010, the Best Cartoon Prize the 20 th Daejeon International Cartoon Contest South Korea 2011, juara III Kompetisi Komik Indonesia Kementerian Pariwisata dan Industri Kreatif Jakarta 2012. “Dalam sejarah, Semarang tak bisa dilepaskan dari kartun. Banyak kartunis dari Semarang berkarya di berbagai media massa besar Indonesia. Mereka juga berprestasi di tingkat dunia,” kata Thalhah.

Saat ini, kata dia, kartun bukan lagi sekadar media berhumor. Kartun juga bermuatan kritik sosial dan politik. Kartun punya posisi strategis karena setiap manusia, anak-anak atau dewasa, terdidik atau tidak, menyukai kartun. “Kartun selalu eksis. Kekuatan kartun bisa menjangkau penikmat lebih luas, dengan ciri khas lugas menyampaikan gagasan.

Kartun bisa menjadi media pendidikan, kesehatan, bahkan terapi kesehatan. Namun untuk berkembang, kartunis memang perlu beradaptasi dengan media baru,” tutur dia.

Dia berharap organisasi kartun lebih berkembang di Semarang. Organisasi itulah yang lebih menghidupkan gairah kreativitas para kartunis. “Harus lebih dari sekadar paguyuban dan menjadi sarana untuk berkembang bersama.” (Aristya Kusuma Verdana- 44)

Sumber: Suara Merdeka 19 Februari 2017

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kartun akan Tetap Eksis"

Post a Comment