SECAC, Wadah Kartunis Kota Semarang

Kena Sensor, Gelar Juara Lomba Dibatalkan

Sejumlah kartunis SECAC berpose bersamaa saat pameran cartoon on the street di Simpang Lima Kota Semarang, Minggu (27/3). (dok Radar Semarang). 

Dari tangan para kartunis, berbagai gambar lucu mampu menggelitik urat tawa kita. Di Semarang, terdapat organisasi kartunis yang sudah berusia 34 tahun. Seperti apa?

SEJUMLAH orang tampak membentangkan gulungan kertas lebar dengan panjang sekitar 5 meter di jogging track Lapangan Pancasila Simpang Lima Semarang, Minggu pagi (27/3) kemarin. Tak jauh dari lembaran kertas tersebut, sekitar 20 karya kartun dipajang. Gambar-gambar yang penuh kritik cukup menggelitik untuk disimak.
Tak menunggu lama, orang-orang ini mulai menggoreskan tinta hitam di lembaran kertas. Gambar kartun dengan barisan kata-kata tentang perilaku korupsi segera terpampang.
Itulah aksi sejumlah anggota Semarang Cartoon Club (Secac) dalam pameran Cartoon on The Street pagi itu. Aksi ini menarik minat pengunjung Simpang Lima yang sedang menikmasti suasana car free day. Tak jarang terlihat senyum atau tawa dari mulut mereka ketika melihat kartun-kartun yang dipamerkan. Dan tentu saja tak ketinggalan foto-foto dengan kartun-kartun lucu tersebut.
Ketua Secac, Slamet Widodo menjelaskan bahwa pameran sengaja digelar untuk mengenalkan karya kartun dan Secac kepada masyarakat Semarang. ”Misi yang lain adalah agar pencinta kartun bertambah tanpa membedakan gender, usia, agama, apalagi ras,” katanya.
Secac merupakan komunitas kartunis di Semarang. Berdiri pada 16 April 1982, digagas oleh Yehana SR dan (alm) Amen Budiman. Berdirinya Secac tak lepas dari sebuah pameran kartun yang digelar Jaya Suprana pada 1981. Sejumlah peserta pameran dengan bangga mencantumkan nama komunitas di belakang inisial nama mereka. Misalnya peserta dari Jogjakarta mencantumkan nama Pakyo, singkatan dari Paguyuban Kartunis Jogjakarta. Atau nama Kokkang (Kelompok Kartunis Kaliwungu) dari Kaliwungu Kendal.

Yehana rupanya galau dengan kondisi ini. Ia lantas berdiskusi dengan Amen Budiman, mengapa tak ada perkumpulan kartunis di Semarang. ”Padahal banyak kartunis-kartunis di Semarang,” jelas Slamet.
Yehana dan Amen selanjutnya sepakat membentuk Secac. Tak butuh waktu lama gagasan ini mendapat dukungan Jaya Suprana dan kartunis-kartunis Semarang. Selama 34 tahun berdiri, sudah ratusan kartunis yang bergabung dalam Secac. 
Sejumlah nama anggota Secac, bahkan sudah dikenal baik di tingkat nasional maupun internasional. Seperti Jitet Koestana yang memenangi berbagai lomba kartun internasional; mantan Pemimpin Redaksi Jawa Pos yang saat ini menjabat sebagai Direktur Jawa Pos Leak Kustiya; pencipta tokoh Si Gundul yang menjadi ikon tabloid Bola Hanung Kuncoro (Nunk), kartunis sekaligus host dan motivator Suprianto GS atau Prie GS, Koesnan Hoesie, Ramli Badrudin, Boedy HP, Ikhsan, Slamet Widodo, Yulianto, Loekis Haryadi, Sudarmin dan masih banyak lagi.
Dalam perkembangan dunia surat kabar di Indonesia, kartun sempat memperoleh tempat di mata redaksi. Sejumlah surat kabar menampilkan kartun-kartun secara rutin. Bahkan tak jarang redaksi menampilkan kartun editorial sebagai bentuk pengungkapan opini.
Rubrik-rubrik kartun di surat kabar ini menjadi buruan para kartunis, termasuk dari Secac. Jika karya mereka dimuat, selain bisa menunjukkan kreativitas, honor berupa uang juga akan diterima. ”Jumlah honor beragam, ada yang besar dan ada yang kecil. Ada pula yang cairnya lama banget, bisa menunggu berbulan-bulan,” tutur Slamet sambil tertawa.
Tapi Slamet menegaskan, honor bukan satu-satunya tujuan bagi kartunis. Yang lebih penting, adanya rubrik kartun di surat kabar jadi ajang unjuk kreativitas para kartunis.
Saat ini, lanjutnya, ladang unjuk kreativitas tersebut semakin kecil. Sebab banyak surat kabar yang mengurangi rubrik kartun, bahkan ada yang menghilangkan sama sekali. ”Media cetak memang banyak yang mengurangi rubrik kartun, tapi zaman sekarang juga memberikan peluang di ruang online,” jelas Wakil Ketua Secac Abdullah Ibnu Thalhah.






Secac harus bisa memanfaatkan ruang online untuk memperlihatkan sikap dan kreativitasnya. Misalnya dengan membuat blog dan mengunggah karya dan kegiatan.

Thalhah menjelaskan, kartun memiliki dimensi yang tidak dimiliki seni lain. Yakni dimensi pendidikan dan berpikir kritis. Sikap kritis selalu diperlukan kartunis untuk ikut mengawal kebijakan penguasa agar tetap ada keberpihakan pada masyarakat. Peran kartunis akan selalu abadi. ”Kartunis tidak akan kehilangan isu untuk bersikap kritis.”
Bersikap kritis, kadang berhadapan dengan tembok bernama sensor. Di masa Orde Baru, sensor dari penguasa sangat kuat. Sekarang setelah reformasi, hantu-hantu sensor tersebut belum juga hilang. Bahkan pelakunya tak hanya penguasa, bisa saja dari masyarakat atau organisasi tertentu.
Slamet masih mengenang pernah menjadi korban sensor. Suatu kali, Slamet mengikuti lomba kartun yang digelar untuk memperingati Hari Bhayangkara di tingkat nasional. Ia menggambar sebuat peluit yang bagian dalamnya terdapat gumpalan uang. Dewan juri menyatakan karyanya menjadi juara pertama. ”Tapi akhirnya dibatalkan oleh Kapolri, hadiah juga batal diberikan. Mungkin gambar saya dinilai terlalu kritis. Tapi salah panitia juga sih, mengapa dewan jurinya tak ada dari kepolisian,” tambahnya.
Praktik sensor lain juga pernah dialami Secac saat bekerja sama dengan SKM Amanat IAIN Walisongo (sekarang UIN Walisongo) pada 2013. Ketika itu digelar lomba kartun tingkat nasional bertema Toleransi dan Pluralisme. Karya-karya terpilih selanjutnya dipamerkan di sebuah mal Kota Semarang.
Ketika karya-karya akan dipajang, ternyata pihak mal keberatan dengan gambar salah satu pemenang. Ada kekhawatiran gambar tersebut menyinggung kelompok organisasi tertentu. ”Akhirnya karya pemenang tersebut tidak ikut dipamerkan. Ini lebih lucu dari karya kartunnya,” jelas Slamet.
Setelah kena sensor, apakah lantas takut menuangkan ide? ”Kartunis pantang takut. Meski kritik kami nylekit, kalau sesuai fakta ya harus mengkritik terus,” tegas Slamet.(Pratono)
Sumber: Radar Semarang

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "SECAC, Wadah Kartunis Kota Semarang"

Post a Comment